Bagian 3 Design For Manufacturability

Design for manufacturability adalah perancangan produk yang berdasarkan pada kemampuan manufaktur, kemudahan produksi, minimalisasi biaya dan mempercepat time-to-market dengan tetap menjaga level kualitas. Manufakturabilitas adalah kemudahan dalam memproduksi produk yang meliputi kemudahan dalam mendesain produk, mempersiapkan peralatan (tooling) dan bahan baku, serta penyediaan tenaga kerja.  Tujuan dari design for manufacturability adalah untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan seperti biaya komponen, perakitan dan overhead. Berikut adalah beberapa prinsip dasar DFM:

3.1 Standarisasi Proses

Proses pembuatan part atau produk menentukan harga keseluruhan produk. Pemilihan proses yang tepat dan sesuai akan membantu meminimalkan biaya produksi. Designer harus menentukan proses apa yang akan digunakan saat membuat part/produk sehingga pada saat perancanan produk mengikuti pedoman-pedoman untuk proses tertentu. Sebagai contoh ketika membuat part plastik maka designer dapat memilih proses dengan menggunakan injection atau thermalforming. Proses injection tentu berbeda dengan proses thermalforming sehingga sangat penting untuk memilih dan mengikuti pedoman-pedoman proses sejak tahap desain.

Standarisasi proses merupakan langkah-langkah meningkatkan kinerja operasional dan pengurangan biaya dengan melakukan penurunan kesalahan proses dan optimalisasi sumberdaya yang anda. Standarisasi proses dapat berdampak pada peningkatan kinerja proses sehingga dapat mengurangi biaya proses, mengurangi waktu proses, peningkatan pengukuran proses, dan peningkatan kualitas proses. Semakin banyak proses yang terstandarisasi maka semakin rendah kemungkinan kesalahan yang disebabkan oleh proses yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas produk secara keseluruhan.

Keuntungan yang dapat diperoleh dari upaya standarisasi proses antara lain:

  • Pengurangan waktu: proses produksi lebih cepat sehingga time-to-market jadi lebih singkat
  • Pengurangan biaya: standarisasi proses produksi dapat mengurangi biaya produksi sekitar 20 %
  • Peningkatan kualitas: standarisasi proses dapat mengurangi secara signifikan jumlah kesalahan produksi sehingga dapat meningkatkan kualitas produk.
  • Flexibilitas: standarisasi proses dapat meningkatkan kemampuan untuk bereaksi terhadap perubahan pasar dan tren secara signifikan.

Bagaimana cara melakukan standarisasi proses?

a. Identifikasi proses kritikal

Tidak mudah untuk mengidentifikasi semua proses. Standarisasi proses dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal yang paling penting dalam pembuatan produk.

b. Buat prosedur operasi standard (SOP)

Pembuatan standard acuan proses akan membantu dalam standarisasi proses. Prosedur operasional standard harus mencakup tujuan dari pembuatan prosedur, urutan langkah dalam proses, aktivitas yang harus dilakukan dan indikator dari proses.

c. Kurangi proses manual

Proses manual cenderung berkontribusi besar dalam kesalahan proses. Pada proses manual sangat sulit untuk mendapatkan hasil yang konsisten. Pada proses yang monoton dan terus-menerus maka perlu menerapkan otomatisasi proses. Melakukan otomatisasi akan mempercepat proses dan dapat memperohe hasil yang lebih konsisten.

3.2 Standarisasi Material

Material yang digunakan akan sangat menentukan kualitas dan harga dari produk. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan material antara lain:

  • Apakah material tersedia dengan konfigurasi yang standard (bentuk, ukuran, tebal) ?
  • Sesuaikah material yang digunakan dengan proses yang diinginkan ?
  • Apakah material tersedia atau dapat diperoleh dengan mudah ?
  • Apakah material yang digunakan untuk kebutuhan fungsional?

Pemilihan material juga perlu memperhatikan sifat dari bahan yang akan digunakan. Beberapa sifat material yang perlu dipertimbangkan dalam DFM meliputi:

  • Mekanik – Seberapa kuat bahan yang dibutuhkan?
  • Optik – Apakah bahannya reflektif atau transparan?
  • Termal – Seberapa tahan panas yang dibutuhkan?
  • Warna – Warna apa yang dibutuhkan bagian itu?
  • Listrik – Apakah bahan perlu bertindak sebagai dielektrik (bertindak sebagai isolator daripada konduktor)?
  • flammability – Seberapa tahan api/bakar yang dibutuhkan material?

3.3 Kesesuaian Produk

Produk harus memenuhi standard yang ditentukan baik standar keamanan dan kualitas, standard pengujian, standard industri maupun standard yang disyaratkan oleh pihak ketiga (regulasi, customer, dan lain-lain). Memahami standard produk dari awal akan membantu dalam pembuatan produk yang dapat diterima di pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *